Jumat, 02 Agustus 2013

RAIN


Hujan mengingatkanku tentang engkau.
Ini, tentang setiap tetesan air hujan yang turun.
Yang mengingatkanku tentang engkau.
Dan yang selalu membuatku tidak pernah merasa kesepian.
Kau tahu mengapa?
Itu karena aku percaya akan janji yang kau tuliskan untukku.
Bahwa kau, akan selalu ada disetiap titik hujan yang membasahiku.




 
 
 
Suatu hari di tengah-tengah padang rumput hijau yang luas. Hiduplah sebatang bunga yang sangat cantik, namanya Kirei. Kirei hidup bersama dengan ratusan rumput hijau yang sangat ramah. Kirei juga hidup bersama dengan seorang sahabat yang sangat disayanginya, yaitu Yumeko. Yumeko adalah seekor lebah yang baik hati. Wajahnya begitu imut dan selalu terlihat ceria.
 
Setiap hari, Kirei dan Yumeko selalu bersama. Bukan hanya sekedar bermain, tapi mereka juga saling bekerja sama dengan senang hati. Yumeko yang seekor lebah, selalu memakan madu yang dihasilkan oleh Kirei. Namun, Yumeko juga selalu menyirami Kirei dengan air yang dia ambil seorang diri dari sumber air terdekat. Begitu seterusnya hidup mereka setiap hari. Selalu bersama. Menghasilkan cerita yang penuh dengan warna.
 
Namun tanpa diduga, tiba-tiba saja bumi mengalami musim kemarau yang cukup panjang. Hujan tidak pernah turun. Cuaca menjadi sangat panas yang membuat banyak sumber air menjadi kering. Hal ini sangat berdampak buruk bagi Kirei yang hidupnya berketergantungan dengan air.
 
Pagi itu, tiba-tiba saja Kirei menjadi layu. Dia sakit dan sangat membutuhkan air dengan segera. Tanpa membuang banyak waktu, Yumeko langsung pergi meninggalkan Kirei saat itu juga. Dia terbang tinggi. Berkelana kesana kemari untuk mendapatkan air. Tapi, kemarau yang sudah terjadi cukup lama telah merebut semua air yang ada. Yumeko tidak berhasil mendapatkan setetes airpun. Dia merasa sangat sedih.
 
Dipertengahan perjalanannya. Yumeko berhenti. Dia duduk beristirahat di sebuah daun yang menghadap ke sebuah gunung merapi yang besar. Dengan pandangan yang penuh harap, matanya menatap lekat-lekat ke arah gunung merapi itu.
 
 
****
 
 
Sore itu, hujan tiba-tiba saja turun membasahi seluruh daratan bumi. Musim kemarau sudah berakhir. Kirei sangat merasa senang. Perlahan, tubuhnya kembali berdiri tegak. Kirei sudah mendapat air dan dia sudah tidak merasakan sakit lagi. Bersama dengan ratusan rumput hijau yang ada disekelilingnya, Kirei bersorak riang. Rasa bahagianya begitu memuncak. 
 
Hingga dalam kurun waktu yang cukup lama, Kirei baru menyadari bahwa ternyata Yumeko tidak ada di sampingnya. Namun, Kirei tidak merasa sedih ataupun kecewa. Itu karena Kirei tahu bahwa Yumeko pasti sedang berkeliling mencari air untuk dirinya. Dengan sabar, Kirei menunggu kedatangan Yumeko.
 
Senja telah tiba. Perlahan rintikan air hujan mulai menghilang. Sorak riang rerumputan hijau juga sudah tidak terdengar lagi. Tapi, Yumeko masih belum juga datang. Kirei mulai merasa khawatir. Kirei berpikir bahwa Yumeko pasti sudah pergi ketempat yang sangat jauh sehingga membuatnya belum juga datang.
 
Ditengah-tengah penantian Kirei, tiba-tiba saja burung pengantar surat mendarat di depan matanya. Burung itu memberikan sebuah surat untuk Kirei. Dengan senang hati, Kirei menerima surat itu. Tepat setelah burung pengantar surat itu pergi, Kirei langsung membaca isi surat yang dia dapatkan.
 
Untuk Kirei, sahabat terbaikku.
 
Maaf telah membuatmu menunggu. Apakah hujan sudah turun? Aku harap kau menjawab "iya". Bagaimana kabarmu setelah mendapatkan air? Aku jamin, tubuhmu pasti sudah berdiri dengan tegak sekarang.
Kirei, maafkan aku. Aku tidak bisa kembali lagi bersamamu.
Pagi tadi dipertengahan jalan saat mencari air, aku sempat beristirahat di dekat gunung merapi yang ada di arah utara sana. Aku memandangi gunung itu terus menerus hingga aku ingat akan satu hal. Aku pernah mendengar sebuah mitos tentang pengorbanan dan permohonan yang terjadi di gunung merapi itu. Konon, siapa saja yang berani menceburkan dirinya sendiri dengan ikhlas kedalam lava panas di dalam gunung merapi itu. Maka akan ada satu permohonan yang terkabulkan. Awalnya aku tidak percaya, tapi ternyata hal itu bukan hanya sekedar mitos. Aku memberanikan diriku untuk datang ke seorang penyihir yang berada di dekat gunung. Penyihir itu bilang, hal itu memang benar bisa terjadi.
Aku ingat akan dirimu. Dan tentu saja, aku juga ingat akan ratusan rumput hijau dan makhluk hidup lainnya. Aku berpikir bahwa satu nyawa tidak akan lebih berharga dari ribuan nyawa yang lain. Aku melakukannya. Aku menyeburkan diriku kedalam lava itu untuk mendatangkan hujan agar kemarau segera berakhir.
Maafkan aku Kirei. Janganlah kau marah dan bersedih karena ku.
Aku janji, aku akan tetap bersamamu.
Kau tahu bahwa aku yang mendatangkan hujan itu kan? Itu berarti, secara tidak langsung aku telah menjadi bagian dari tiap tetes air hujan yang membasahimu. Aku akan selalu bersamamu dan selalu berusaha untuk terus menyiramimu. Tetaplah semangat. Hasilkan madu terbaikmu untuk para lebah sepertiku.
 
Salam sayang,
Yumeko.

2 komentar:

  1. Balasan
    1. terima kasih atas pujiannya :) mohon kritik dan saran untuk selanjutnya.

      Hapus